Kaget Ulama NU Merangkul FP

Kaget Ulama NU Merangkul FPI? Ora Usah Ndeso Bro..!!

ASWAJA Berita Terbaru

Santridasi – Sebuah Ungkapan Kaget Ulama NU Merangkul FPI? Ora Usah Ndeso Bro..!!Sebenarnya penulis awalnya sama sekali tidak berminat untuk menuliskan masalah ini.

Sebab, sebagai warga NU, idealnya tidak perlu penjelasan apapun sudah faham. Kalau bingung minimal diam. Tetap percaya kepada para Ulama dan mendoakan segala yang baik untuk beliau semua.

Sayang sekali, yang terjadi justru banyak sekali warga NU dengan terbuka menyatakan kecewa, marah, tidak puas dan sejenis itu.

Bahkan ada yang protes bahwa keputusan Ulama NU merangkul FPI adalah sebuah kekeliruan. Mengingat rekam jejak FPI seperti apa kurangajarnya kepada beberapa Ulama NU.

Inilah salah satu jawaban, mengapa jaman dulu NU tenang. Karena, sekalipun warganya bingung dengan sikap atau keputusan Ulama, orangtua, simbah dan buyut kita diam. Tetap percaya dan merapatkan barisan membela Ulama.

Lha jaman sekarang, Ulama baru merancang strategi, bukannya merapatkan barisan dan mendukung, tetapi justru banyak yang cenderung menyalahkan. Menyedihkan sekali, bukan?

Yuk, kita baca apa yang sedang dilakukan oleh para Ulama kita.

Saat ini, FPI berada dalam posisi yang semakin terdesak. Bahkan terancam berakhir hidupnya. Apa salah jika kita mengantar mereka dengan baik dalam rangka menjemput “husnul khotimah?”

Lalu bagaimana dengan anggotanya? Itulah yang dipikirkan oleh para Ulama kita. FPI itu organisasi yang mulanya legal. Hanya saja legalitasnya tidak bisa diperpanjang lagi. Dan dulu, ketika masih sugeng, Guru Mulia KH Hasyim Muzadi mendekati dan ngemong FPI.

FPI memiliki banyak sekali amaliyah yang sinkron dengan NU. Bahkan dengan terang-terangan mengaku-ngaku sebagai anaknya NU. Sekalipun tidak pernah terungkap, anak dari mana? Namun, pengakuan ini menjadi catatan tersendiri.

Ibarat sebuah strategi politik, supaya semuanya berakhir dengan baik dan anggota FPI bisa dirangkul kembali maka ada “Badboy” dan “Goodboy”.

Dalam hal ini “Badboy” diperankan oleh pemerintah. Yang memang dengan tegas hendak mencabut legalitas FPI karena ada misi menegakkan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Jelas bertentangan dengan NKRI harga mati yang sudah final.

Juga rekam jejak FPI lainnya yang mengambil dakwah nahi munkar dengan cara yang dipandang tidak menghormati aturan hukum maupun ulama. Jadi, sikap tegas pemerintah wajib kita apresiasi. Sekalipun terkesan keras dan tidak kompromi.

Sedangkan PBNU memerankan diri sebagai “Goodboy”. Merangkul FPI di detik-detik terakhirnya. Supaya apa? Supaya FPI tidak kehilangan muka dan tidak kehilangan kehormatannya. Lalu anggota FPI bisa menjadi warga NU dan mengikuti jalan dakwah ahlissunnah wal jamaa’ah an nahdliyyah.

Masalah beberapa petinggi dan anggotanya yang suka mencaci maki Ulama dan Punggawa NU? Ah, itu anggap saja angin lalu. Para priyogung kita terlalu besar untuk dinodai hanya dengan setitik nila.

Guru Mulia KH Ahmad Musthofa Bisri atau yang kita kenal sebagai Gus Mus dengan bijaknya menggambarkan:

“Ulama NU itu ibarat orangtua. Dan umat ibarat bayi yang harus diasuh. Namanya bayi, walaupun sudah dikasih makan, dimandikan, digendong dan disusui ya tetap saja bayi..
Kadang malah muka orangtuanya ditendang, dicakar, kalung dan anting-antingnya direnggut sampai putus, dan dan malah orantuanya diompoli.”

Apa yang dilakukan orangtua? Ya sabar. Tetap dirawat dengan kasih sayang. Jangan sampai bayinya dibanting karena dianggap kurang ajar. Paham, kan?

Intinya, sebagai warga NU, mari kita legowo dengan strategi yang sedang ditempuh oleh para Ulama dan Punggawa NU dalam membantu pemerintah menyelesaikan masalah FPI ini.

Anggota FPI sejati yang sangat mencintai Sang Imam Besar pasti akan lebih dekat secara psikologi ke Aswaja ala NU daripada kelompok Salafi-Wahaby ataupun kelompok anti NKRI.

Sebagai warga NU, jangan lupa senantiasa bergandengan tangan, merapatkan barisan dan saling mendoakan.

Sekali lagi, kita doakan para Ulama dan Punggawa NU agar senantiasa kuat dan istiqomah fi thoatillah.

Salam cinta NU, aku tetap percaya Ulama NU…

Oleh: Shuniyya Ruhama
Alumni FISIPOL UGM Yogyakarta , Santri Gus Dur dan Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri

Leave a Reply

Your email address will not be published.