Alumni Pesantren

Kisah Alumni Pesantren dan Teman Karibnya

AHLAQ DAN ADAB EDUKASI SANTRI KISAH HIKMAH KISAH INSPIRATIF Kisah Santri

Santridasi.com – Kisah Alumni Pesantren dan Teman Karibnya . Suatu hari seorang Alumni pesantren Sidogiri mendapat undangan ceramah disebuah kota. Hamdalah,sholawat dan salam telah usai diucapkan.

Para hadirin dan segenap undangan begitu khidmad dan khusyuk mendengarkan materi yang disampaikan.

Saat ditengah-tengah menyampaikan ceramahnya Sang Dai secara tak sengaja melihat teman kelasnya ketika dulu masih mondok di Pesanteren Sidogiri berada ditengah-tengah kerumunan para hadirin.

Sahdan, pengajian pun selesai, Sang Dai tak pelak mencari teman kelasnya yang tiba-tiba menghilang dari deretan hadirin dan para undangan.

Hari demi hari pun berlalu, Sang Dai terus memikirkan dan berharap bisa bertemu kembali dengan teman kelasnya(Alumni pesantren).

Hingga pada suatu waktu, Allah mempertemukan dua teman yang lama tak bersua ini di suatu tempat.

Sang Dai bertanya pada temannya : “Kenapa tempo hari kamu tiba-tiba menghilang saat dipengajian itu?”

“Aku malu, setelah tahu yang ceramah itu adalah kamu, teman kelasku”. Jawab Sang Teman, sembari menunduk.

Sang Dai bertanya : “Kenapa kau harus malu? Bukankah aku adalah teman kelasmu. Kita pernah bersama-sama susah senang mengais ilmu di Pondok Pesantren Sidogiri mulai sejak Ibtidaiyah hingga kita lulus tugas.

Sang teman menjawab : “Aku malu pada diriku sendiri, dengan keadaanku saat ini. Hidupku miskin, serba kekurangan.

Untuk memenuhi kebutuhan anak dan istriku saja, setiap malam aku terpaksa memburu katak (kodok) dari sawah ke sawah atau dari sungai ke sungai untuk aku jual ke pengepul seharga 20 ribu.

Itu pun kalau malam itu aku dapat banyak, tapi kalau sedang apes dan tak seekor katak aku peroleh, maka aku harus pulang dengan tangan kosong.

Untuk beli beras dan lauknya aku harus hutang ketetangga terdekat”.

“Apakah kamu selama ini tidak pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk sekedar ke Pesarean (makam Masyaikh) atau suwan kepada Kyai?

Atau setidaknya kamu mengikuti kegiatan IASS baik ngaji kitab atau istighosah setiap bulannya?”. Tanya Sang Dai bertanya pada temannya.

“Aku tidak pernah mengikuti kegiatan IASS sama sekali, apalagi berkunjung ke Pondok atau suwan kepada Kyai. Entalah, aku merasa malu bercampur takut karena tak punya uang

untuk sengkem kepada Kyai dan tidak punya banyak ongkos untuk ikut ngaji kitab di IASS setiap bulan”. Cerita Sang Teman dengan kejujurannya.

Di suatu kesempatan, Sang Dai mengajak temannya untuk suwan kepada KH. Nawawi bin Abd. Jalil.

Sang Teman (Alumni pesantren) tentu saja menolak dengan alasan yang sama-tidak punya uang.

Namun setelah Sang Dai memberi beberapa pertimbangan dan saran serta siap memberinya uang untuk suwan, akhirnya Sang Teman pun mau ikut suwan ke Kyai.

Sesampainya di kediaman KH. Nawawi bin Abd. Jalil Sidogiri, Sang Dai menghaturkan semua cerita pahit yang dialami temannya dengan rinci kepada Kyai Nawawi.

“Pohon saja kalau tidak pernah disiram air, maka akarnya akan mati. Begitu juga seorang Santri (Alumni), kalau tidak pernah disirami doa-doa para Masyaikh dan khidmah serta pengabdian di masyarakat demi membawa bendera Sidogiri li i’la kamatillah tentu hidupnya akan redup dan mati.

Maka hendaklah kamu ikuti segala kegiatan yang diadakan IASS dan kalau ada waktu senggang suwanlah ke Pesarean (makam Masyaikh). Ini aku beri ijazah wirid, amalkan selama tujuh hari jangan sampai putus. Setelah itu pergilah kau ke arah selatan”. Dawuh Kyai Nawawi bin Abd. Jalil.

Baca juga: Pengertian tazir yang hanya ada di dunia pesantren

Tujuh hari pun berlalu dan semua wirid yang diijazahkan Kyai dibacanya hingga usai, lalu Sang teman berjalan keluar dari rumahnya menuju ke arah selatan sesui pentunjuk yang diperintahkan Kyai Nawawi. Jauh dia melangkah ke arah selatan, meninggalkan rumahnya.

Tak ada dalam benaknya kecuali hanya melaksanakan titah Kyai hingga akhirnya dia bertemu dengan orang sedang menebang pohon besar di hutan.

Sang teman bertanya : “Bapak menebang pohon ini untuk apa?”.

“Aku menebang pohon ini untuk aku jual Nak! Apakah kau mau membelinya? Biar aku berikan padamu seharga 1 juta. Jawab Si Penebang Pohon.

Ah, tidak Pak! Aku tidak punya cukup uang untuk membelinya. Sahut Sang Teman.

Sudahlah! Bawa saja kayu ini kalau kau berminat membelinya. Jangan kau pikirkan masalah uangnya, nanti kalau kayu ini sudah laku kamu tinggal mengembalikan modalnya. Serah Si Penebang Pohon .

Dengan penuh semangat Sang Teman membawa kayu itu ke desa terdekat. Alhamdulillah, tanpa disangka kayu yang dibawanya laku 2 juta.

Setelah itu, keesokan hari Sang teman bersama Sang Dai suwan kembali ke KH. Nawawin bin Abd. Jalil di Sidogiri.

Sesampainya di Sidogiri Sang teman ditanya oleh Kyai Nawawi : “Bagaimana! Sudah mendapatkan rezeki?

“Ya, Alhamdulillah Kyai! Kemarin saya mendapat rezeki 1 juta”. Jawab Sang Teman sembari tersenyum simpul.

“Kalau begitu, wirid yang aku berikan padamu amalkan lagi selama tujuh hari, sama seperti yang aku perintah minggu yang lalu. Perintah Kyai Nawawi.

Tujuh hari pun juga berlalu, Sang teman telah menyelesaikan wirid yang diperintahkan Kyai.

Seperti sebelumnya dia pun keluar rumah dan berjalan ke arah selatan. Ketika sampai di suatu desa Sang Teman bertemu dengan orang yang sedang panen buah jeruk.

Iya, bertanya pada kepada Si Petani Jeruk : “Sedang panin jeruk Pak?

“Iya benar! Apakah kisanak, hendak memborong (membeli) jeruk ini? “Semua jeruk ini aku beri harga 5 juta saja. Kalau kisanak minat silahkan!!!”. Jawab dan tanya Si Petani Jeruk.

“Aku tidak punya uang Pak! untuk membeli semua jeruk Bapak. Aku cuma ingin tahu saja”. Jawab Sang Teman sedikit malu-malu.

“Tidak usah malu-malu dan memikirkan soal uangnya. Asalkan Kisanak minat, sudah bawa semua jeruk ini. Aku percaya Kisanak orang yang bisa dipercaya, masalah uang nanti belakangan. Kalau sudah laku, Kisanak tinggal membayar modalnya saja. Ajur Sang Petani Jeruk.

Tanpa basa-basi lagi Sang Teman, langsung membawa semua jeruk itu ke pasar. Alhamdulillah, semua jeruk yang dibawanya laku 10 juta dan dia hanya tinggal mengembalikan 5 juta kepada Sang Petani jeruk.

Singkat cerita, Sang Teman yang dulu hidup susah di bawah garis kemiskinan dan hanya bekerja memburu kodok setiap malam, sudah mulai berbahagia dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Subhanallah! Aku ucapkan. Sahabat sejati tentu tak akan pernah rela melihat sahabatnya hidup dalam kesusahan dan keterpurukan.

Semoga kisah nyata ini bisa menjadi inspirasi dan diambil hikmahnya bagi semua Alumni Pesantren.

Semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan, keluasan rezeki dan waktu untuk bisa suwan kepada guru-guru kita khususnya Para Masyaikh di Pesantren tempat kita belajar ilmu Allah.

Kisah Alumni Pesaantren ini, diceritakan oleh Alumni Senior Santri Sidogiri asal kota Probolinggo.

Dengan tujuan sebagai ibroh dan pelajaran bagi kita selaku Alumni Pesantren dan tidak ada maksud untuk menyinggung siapa pun yang mungkin kehidupannya ketepatan sama seperti cerita di atas.

Ibroh buat alumni pesantren manapun..
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Hasil diskusi kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa pembaca kunjungi di Benangmerahdasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.