Mari Kita Mengenal Lebih dekat Beliau KH Maemun Zubair

Sejarah Ulama Nusantara

Santridasi.com  – Mari Kita Mengenal Lebih dekat Beliau KH Maemun Zubair. Kematangan ilmu beliau sudah tidak diragukan lagi.

Hal ini tentu saja tidak didapat secara spontan dan kebetulan. Sejak balita kehidupannya sarat akan ilmu-ilmu agama.

Sebelum menginjak usia remaja, Mbah Mun belajar menghafal dan memahami ilmu-ilmu shorof, nahwu, fiqih, mantiq, dan balaghoh pada ayahnya yang merupakan murid teladan dari dua ulama masyhur pada masa itu, yaitu Syaikh Sa’id Al-Yamani dan Syaikh Hasan Al-Yamani Al Makky .

Pemikirannya yang cerdas dan cemerlang ini senantiasa menghiasi langkahnya. Pada usia muda berkisar 17 tahun, KH. Maimun Zubair sudah mampu menghafal kitab-kitab nadzom Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah Fil Faroidl.

Kitab-kitab Asy-Syafi’i seperti Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahab pun telah dihafalnya sebagai bekal dasar dalam mengarungi samudra ilmu agama .

Pada tahun kemerdekaan (1945) beliau menimba ilmu di Pondok Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Selama kisaran waktu lima tahun, beliau “ngalap barokah” di Pondok Lirboyo yang merupakan binaan dari KH. Abdul Karim .

Baca Juga: Nasihat berharga dari K H Maimun Zubair

Menginjak usianya ke 21 tahun, Mbah Mun menuruti panggilan jiwanya untuk melanjutkan rihlatul ilmiyyahnya ke Tanah Hijaz, Timur Tengah, yakni Makkah Mukarromah didampingi oleh kakeknya KH. Ahmad bin Syu’aib.

Di Makkah beliau menimba ilmu pada banyak mata air, yakni ulama tersohor yang ahli pada bidangnya, diantaranya : – Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki – Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath – Sayyid Al-Amin Quthbi -Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani -Syaikh Abdul Qadir Al-Mandaly, dan banyak ulama lainnya .

Setelah melewati masa dua thun tholabul ilmi di Makkah Mukarromah beliau kembali ke tanah air untuk melanjutkan rutinitas ngajinya dgan menimba samudra ilmu dri ulama besar tanah air seperti:

KH Baidhowi (mertua beliau) dan, – KH Ma’shum yang keduanya tinggal di Lasem. – KH Ali Ma’shum (Krapyak, Yogyakarta) – KH Bisri Musthofa (Ayahanda KH. Musthofa Bisri, Rembang) – KH. Abdul Wahab Hasbullah – KH. Muslih Mranggen (Demak) – KH. Abbas (Buntet, Cirebon) – Syaikh Ikhsan (Jampes, Kediri) – KH. Abul Fadhul (Senori, Tuban).

Bersambung..
Alfatihah

“Mari Kita Mengenal Lebih dekat Beliau KH Maemun Zubair”

Semoga bermanfaat untuk kita semua..Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa pembaca kunjungi di Benangmerahdasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.