Mengenal KH Nahrowi Dalhar bin Abdurrohman

Mengenal KH Nahrowi Dalhar bin Abdurrohman Watucongol

TOKOH ASWAJA

Santridasi.com – Mengenal KH Nahrowi Dalhar bin Abdurrohman (Mbah Dalhar Watucongol). Ketika Pondok Pesantren Darussalam ditempati Muktamar NU ke-14, Mbah Dalhar diminta memberikan sambutan atas nama tuan rumah.

Oleh karena diminta para Kyai, Beliau tidak keberatan. Tapi aneh, Ketika sudah diatas panggung dan menghadap mikrofon, tidak banyak kalimat yang disampaikan.

Setelah mengucapkan salam seperti lazimnya sambutan, disusul dengan ucapan Poro rawuh sami wilujeng?” lalu ditutup dengan salam. Selesai, lalu turun. Tidak lazim memang, Banyak peserta muktamar penasaran karenanya.

KH Ali Maksum Mengartikan kalimat “WILUJENG” Yang disampaikan Mbah Dalhar itu ternyata memiliki banyak makna.

Baca juga: Habib Lutfi bin Yahya dan kecintaanya kepada Nahdlatul Ulama

Diantaranya ucapan selamat, semoga acara tersebut sukses, apa yang digagas NU adalah sesuai dengan apa yang diwariskan para ulama pendahulu, dlsb. Satu kata banyak makna._

Lahir di Watucongol, Muntilan, Magelang pada tahun 1841. Ayahnya KH Abdurrohman, adalah pengasuh kedua Pondok Pesantren Darussalam Watucongol yang didirikan pada tahun 1820 oleh KH Abdurrouf.

Dengan demikian Mbah Dalhar merupakan pengasuh ketiga pondok legendaris tersebut.

Selain belajar langsung kepada orang tuanya, Mbah Dalhar juga pernah belajar di Pondok Al Kahfi Sumolangu Kebumen, asuhan Syaikh Abdul Kahfi Tsani selama 3 tahun.

Melanjutkan ke Tremas, Pacitan dibawah asuhan Syaikh Mahfudz selama 7 tahun. Dan melanjutkan ke Ringinagung, Kediri dibawah asuan KH Nawawi selama 3 tahun.

Setelah itu melanjutkan ke Tanah Suci Makkah. Disinilah terlihat keanehan Mbah Dalhar. Selama 27 Tahun menetap ditanah suci, hanya sekali beliau meninggalkan sholat berjamaah, itupun disebabkan karena saat itu beliau baru datang dari tanah air.

Mengenal KH Nahrowi Dalhar bin Abdurrohman (Mbah Dalhar Watucongol)

Sekitar tahun 1916 beliau kembali dari perantauan menuntut ilmu dan langsung mengasuh pesantren yang didirikan kakeknya. Semua bidang ilmu beliau kuasai, namun lebih menonjol pada sisi ilmu tasowwuf. Beliau menjadi satu-satunya Mursyid Thoriqoh Syadziliyah di Indonesia.

Pada tahun 1939 Pesantren Darussalam ditempati Muktamar NU ke-14. Meski selalu aktif dalam perjuangan NU, namun beliau tidak pernah menjadi pengurus NU. Beliau lebih aktif didunia Thoriqoh.

Banyak Murid santrinya yang menjadi Kyai besar dan aktif didalam perjuangan NU, Diantaranya KH Dimyati Pandeglang, KH Mahrus Ali Lirboyo, KH Abbas Buntet, HA Hamid Widjaja, KH Hakim Nganjuk, KH Mahfudz Sumolangu, Gus Dim, Gus Mik, Gus Dah Ploso dlsb.

Mbah Dalhar Wafat pada tanggal 25 Romadlon 1959 dalam usia 118. Dan dimakamkan di Makam Gunung Pring.

Konon, pemakaman tersebut atas permintaan dari Mbah Raden Santri yang lebih dahulu meninggal dan dimakamkan ditempat itu bersama 9 Auliya’ILLAH lainnya.
Lahul Fatihah…

Mengenal KH Nahrowi Dalhar bin Abdurrohman (Watucongol)

Semoga bermanfaat untuk kita semua
Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa pembaca kunjungi di Benangmerahdasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.