Mengucapkan Salam Cukup Satu Saja

Mengucapkan Salam Cukup Satu Saja Namun Jangan Larang yang Berbeda

ASWAJA Berita Terbaru EDUKASI SANTRI

Santridasi.com – Polemik Mengucapkan Salam sebenarnya sudah terjadi semenjak dahulu. Ditinjau dalam berbagai hal. Dan hasilnya berbeda-beda.

Indahnya, kemudian menjadi mengindonesia sehingga semua tampil begitu apik. Penuh sopan santun.

Mbah Gus Dur pernah menjelaskan bahwa salam terbaik adalah assalamu’alaykum. Sebab, kita ini beragama Islam. Dan salam ini sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia.

Namun, lanjut beliau, kita juga tidak perlu kaku. Jika berada di suatu wilayah yang belum terbiasa dengan assalamu’alaykum, maka Mengucapkanlah salam yang biasa berlaku di sekitar situ.Misalnya, ucapan: permisi, nyuwun sewu, nderek langkung, dll. Intinya ialah berkomunikasi sebagai simbol keramahan dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sangat disayangkan hanya karena perbedaan bunyi kalimat salam, akhirnya justru menjadi perpecahan. Bahkan ketika Mbah Gus Dur menjadi Presiden pernah berpidato di depan DPR, memberi contoh, jika ada orang Batak, boleh memberi salam dengan: horas…

Baca Juga: Kaget Ulama NU Merangkul FPI? Ora Usah Ndeso Bro..!!

Lebih dari 74 tahun kita menjadi bangsa dan sudah lebih dari 1000 tahun kita beragama. Polemik masalah ucapan salam seharusnya sudah bukan bagian dari perdebatan yang masih asik dibicarakan lagi.

Kalau ditilik lebih lanjut, ucapan salam di Indonesia baik yang berbasis atas agama, suku, atau nasional jumlahnya sangat banyak. Kalau mau diucapkan semua pastinya ribet luar biasa. Kepanjangan dan bisa jadi kita keseleo lidah jadinya.

Namun, melarang orang bersalam di luar tata ajaran agama resmi juga sesuatu yang tidak etis. Kita tidak sedang berperang fisik dengan penganut agama apapun, dengan suku manapun.

Sebagai penganut Muslim, tentu penulis akan jauh lebih nyaman berucap: assalamu’alaykum, daripada ucapan lainnya. Bahkan mendidik anak dan santri untuk membiasakan Mengucapkan Salam khas kaum Muslimin ini daripada ucapan salam lainnya.

Namun, meributkan kenyamanan dan kebiasaan orang lain apalagi pejabat pemerintahan yang harus mengayomi semua warganya merupakan hal yang tidak patut dilakukan.

Oleh: Shuniyya Ruhama
Murid Gus Dur , Alumni FISIPOL UGM Yogyakarta dan Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri

Leave a Reply

Your email address will not be published.