Pandangan Nahdlatul Ulama'

Pandangan Nahdlatul Ulama’ tentang wawasan kebangsaan

ASWAJA EDUKASI SANTRI SEJARAH DAN BUDAYA SEJARAH NUSANTARA

Santridasi.com – Terkait Pandangan Nahdlatul Ulama’ tentang wawasan kebangsaan. Nahdlatu Ulama (NU) pra kemerdekaan mengembangkan nilai-nilai kebangsaan dengan cinta tanah air.

Memang umat muslim yang dipelopori oleh ULAMA-ULAMA PESANTREN pada saat itu merasakan pedihnya penjajahan,sehingga ULAMA-ULAMA NU menginginkan NEGARA INDONESIA MERDEKA.

Kemudian,ULAMA mendirikan organisasi NU agar perjuangan mempunyai penggalangan yang kuat dan efektif,tentunya setelah mengacu pada perjuangan Islam masa lalu seperti Pangeran Diponegoro.

Perjuangan ini sangat panjang.ULAMA-ULAMA mendirikan PESANTREN di desa-desa yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda.

Upaya lain ULAMA indonesia memantau terus perkembangan dunia.Sampai tahun 1941 saat terjadi PD ll,ULAMA-ULAMA itu menyatu.

Nilai yang dikembangkan adalah menanamkan kecintaan kecintaan kepada bangsa dan negara indonesia; bahkan PUTRA KIYAI banyak yang masuk PETA,misalnya PUTRA K.H. HASYIM ASYARI yang semuanya masuk PETA.

ULAMA juga membuat semacam PETA yaitu pasukan Hisbullah dan Sabilillah.

Pandangan Nahdlatul Ulama’ tentang wawasan kebangsaan

Wawasan kebangsaan yang dikembangkan NU pada saat aktif di politik adalah untuk kepentingan persatuan umat yang dengan sendirinya merupakan sumbangan besar bagi persatuan di indonesia.

Partai politik didirikan untuk menyatukan umat islam,tetapi buyar karena perebutan kursi.Kemudian NU berdiri sendiri sehingga ada tiga partai islam pada saat itu,yaitu Masyumi,NU dan PSII.

Perjalanan ini berlanjut sampai Masyumi dibubarkan Bung Karno, dan hanya tinggal NU sebagai partai politik islam waktu itu.

Baca juga: Hubungan Pancasila dengan Islam pada munas NU 1983

Landasan kebangsaannya,NU tidak menginginkan NEGARA Islam tetap NEGARA NASIONAL.jadi, NU tidak menginginkan NEGARA SEKULER ATAU NEGARA AGAMA, tetapi negara yang NASIONAL tetapi berJIWA ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN.

Sampai akhirnya fusi,tetapi tetap menjadi ramai karena NU yang besar menjadi imam.NU pun akhirnya menyatakan kembali ke khithah.

Bagaimana dengan kalangan muda NU sekarang?karena “Bapaknya” sekarang sudah berpolitik,maka mereka cenderung mengarah kepada pendidikan.

Modernisasi jelas berpengaruh bagi kalangan muda NU,baik positif maupun negatif.

Positifnya,mereka banyak menyerap ilmu dari berbagai media massa cetak maupun elektronika,sehingga menjadi tahu kekurangan bangsa sendiri dan tahu tentang kemajuan bangsa lain.

Negatifnya adalah pengaruh pada Akhlak yang akhir-akhir ini banyak kemerosotan.
Dengan Orientasi pendidikan baik pengetahuan umum maupun ilmu keagamaan di PESANTREN maka wawasan kebangsaan kalangan muda NU tidak terpengaruh modernisasi akan tetapi tetap bisa menjadi motor dalam pembangunan negeri ini.

Persoalan AGAMA sering menjadi pemicu perpecahan?memang harus ekstra hati-hati agar tidak menyinggung perasaan-perasaan orang yang bersangkutan.

Untuk menyelesaikan persoalan agama agar tidak menjadi pemicu perpecahan,maka semua harus menahan diri.kalau Islam sudah memiliki LAKUM DINUKUM WALIYADIN yang berarti agamaku agamaku,agamamu agamamu.

Jadi,kalau kita semua mau menjaga dari sikap ofensif secara kasar kepada agama lain.Insyaallah tidak akan menjadi problem.

KH. Muh As’ad Umar
Forum silaturahmi sarjana Nahdlatul Ulama
(FOSSNU) JATIM. Majalah An Nadha’ir edisi 001/lX/94.

Demikian sedikit penjelasan terkait Pandangan Nahdlatul Ulama’ tentang wawasan kebangsaan

Semoga bermanfaat untuk kita semua..
Hasil diskusi kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa pembaca kunjungi di Benangmerahdasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.