Cokro Aminoto

Pendidikan Taman Siswa Ala Cokro Aminoto

EDUKASI SANTRI KISAH INSPIRATIF

Santridasi.com – Hebatnya Pendidikan Taman Siswa Ala Cokro Aminoto .

Sebuah pengalaman dari seorang teman di belahan dunia lain,beliu mengatakan bahwa Eropa lebih Indonesiawi dalam tata cara didik mendidik ketimbang di Indonesia sendiri.

Beliu bercerita bahwa kurikulum yang di pakai di negara tersebut persis dan plek metode yang di berlakukan oleh Taman siswa ala HOS Cokro aminoto tempoe doloe.

Beliu bercerita,
Jumat lalu, kedua anak saya menerima Report Card dari sekolahnya Elementary School (rapor kalau di Indonesia).

Melihat keduanya mendapat nilai-nilai yang sangat bagus. Anehnya kok tidak tercantum info tentang rangking ?

Saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya…

“Anak saya ranking berapa, Ms. Batey?”

Dia balik bertanya, “Kenapa Anda orang Asia selalu nanya seperti itu?”

“Wah, salah apa saya ini….?” kata saya dalam hati.

Baca juga: Guru dan murid tertawa karena beda pendapat tentang rizeki

Dia melanjutkan bicara, “Anda kok sangat suka sekali berkompetisi?” katanya.

“Di level anak Anda, tidak ada rangking2an…!”
“Tidak ada kompetisi!” tambahnya.
“Kami mengajari mereka tentang ‘cooperation’ alias kerjasama….!”
“Mereka harus bisa bekerja dalam ‘team work'”

“Dan mereka harus bisa cepat bersosialisasi dan beradaptasi.”
“Mereka harus punya banyak teman!”

“Lebih penting bagi kami untuk mengajari mereka story telling dan bagaimana mengungkapkan isi pikiran dalam bahasa yang terstruktur dan sistematis!”
“Kami mengajari mereka “logika” dal
am setiap kalimat yang mereka ucapkan!”

Dari sini, rupanya kenapa teman-teman saya di kantor mentalnya slalu “How can I help you? Hampir tidak pernah saya lihat mereka jegal-jegalan.

Dan, di Eropa hampir semua profesi mendapat penghasilan/penghargaan yang layak. Tidak harus semua jadi dokter, insinyur atau profesi lain yang terlihat “terhormat” seperti di Indonesia.

Semua orang boleh mencari penghidupan sesuai passionnya, sehingga semua bidang kehidupan berkembang maju, karena diisi orang-orang yang bekerja dengan penuh gairah.

Wah…saya jadi ingat, memang pendidikan di negeri saya sangat kompetitif.

Banyak orangtua yang narsis kemudian memajang prestasi anak-anaknya di sosmed. Wow!

Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu suka berkompetisi dan lupa bekerjasama.

Kiri-kanannya dianggap saingan bahkan sangat mungkin sebagai musuhnya
Dirinya harus menjadi yang terbaik!

Mending kalau si anak bisa mengembangkan dirinya supaya menang persaingan. Yang ada, kadang mereka justru menunjukkan kebaikan dirinya dengan cara mengungkapkan kejelekan2 temannya ataupun orang lain…

“Kalo bukan kita siapa lagi?” begitu jargonnya…

Wuih…, betapa arogannya, seakan-akan pihak lain tidak ada yang bisa! Hanya dia sendiri yang mampu!

Kemudian yang ada adalah menjadi sakit mentalnya….
“Aku menang…..aku menang….!” begitu suara anak-anak dari sebuah gang di ibukota…

Entah permainan apa yang mereka menangkan?
Entah kapan dia sadar, bahwa hidup bukan melulu soal menang atau kalah..!

Demikian ulasan Pendidikan Taman Siswa Ala Cokro Aminoto

Semoga bermanfaat untuk kita semua
Hasil diskusi kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa pembaca kunjungi di Benangmerahdasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.