Mbah Muslim Imampuro

Pesan Mbah Muslim Imampuro Klaten Kepada Santri dan Kiyai

ASWAJA EDUKASI SANTRI KISAH WALI ALLAH Sejarah Ulama Nusantara TOKOH ASWAJA

Santridasi.com  – Sebuah Pesan Mbah Muslim Imampuro Klaten Kepada Santri dan Kiyai, yang harus kita teladani.

Asbak beling di depannya mendadak dicomotnya, lalu dilemparkan. Mbah Lim tiba-tiba mendekati wartawan majalah Tempo dan menjewer kuping sang wartawan berkali-kali.

“Kalau santri-kiai nggladrah (tak jelas), bagaimana nanti NKRI? Kalau santri-kiai sudah bengkok kiblatnya, bagaimana nasib RI dan isinya? Diobok-obok,” ujarnya lagi

Sumber : Majalah Tempo

Di kalangan pesantren NU, adanya Tokoh Kiai yang aneh/nyeleneh adalah hal biasa.

Sebab dalam khazanah Islam memang ada fenomena yang disebut khawariqul adah, hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan.

Ada banyak macam kenylenehan, mulai dari yang berhubungan dengan kekuatan spiritual hingga ke sikap dan tingkah laku.

Mereka “dihadiekan” Tuhan barangkali untuk, salah satunya, menciptakan keseimbangan yang misterius.

Dalam setiap zaman selalu ada orang-orang seperti mereka yang tak jarang menimbulkan kontroversi.

Mereka mengemban misi tertentu yang tidak banyak diketahui orang — semacam “intelejen Ilaahiyyah.”

Salah satunya adalah mbah Muslim Imampuro, Klaten. Keanehannya sudah masyhur,

dan beliau sering bergerak di balik layar, menjadi penasihat spiritual dengan cara yang aneh dan sering bersifat simbolis.

Beliau datang dan pergi secara tak terduga, seperti angin. Misalnya kisah ini (dari Terong Gosong):

Keputusan “Kembali Ke Khittah 1926” pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo, 1984, didahului oleh gerakan pembaharuan yang digelindingkan oleh sekelompok pemimpin muda NU yang dilokomotifi oleh Gus Dur.

Mereka menamakan diri: “Kelompok G-7”, diambil dari nomor rumah Pak Said Budairy di sebuah komplek perumahan di Jakarta, yang mereka jadikan “markas gerakan”.

Walaupun sudah tidak tergolong muda, Mbah Lim aktif mengombyongi segala aktivitas kelompok itu dan teramat sering ikut ngendon di markas mereka.

Balayan Malakan Idham Malik meriwayatkan, suatu hari di malam buta ditengah masa-masa gerakan pembaharuan itu, Mbah Lim datang ke rumah Said Budairy yang penghuninya masih lelap semua.

Mbah Lim tidak mengetuk pintu tapi langsung menggeloso di emperan rumah yang hanya berupa pelesteran semen dan hanya beberapa jengkal saja lebarnya.

Pak Said Buadairy pun kaget setengah mati saat membuka pintu habis subuh.

“Mbaaah! Kok nggak ketok pintu sih? Kayak yang nggak biasa kesini saja!”

Mbah Lim cengar-cengir sambil memamerkan rokok yang sedang dihisapnya.

“Lha ini malah sudah dapat hadiah rokok dari anakmu”, katanya.

Rupanya, anak Pak Said yang bangun duluan sudah lebih dulu mendapati orang menggeloso di emperan rumah.

Mengira orang itu gelandangan numpang tidur, ia pun menyedekahkan sebatang rokok.

Dalam riwayat lain dikisahkan kenylenehannya dalam berinteraksi, di mana Mbah Lim sering bertingkah lucu:

Ini kisah dari santrinya.

Pada zaman Gus Dur masih jadi presiden, beliau dikenal suka berkunjung ke kuburan dan ke orang-orang yang dianggapnya Wali.

Suatu ketika beliau berkunjung ke pesantrennya Mbah Muslim Imampuro di Klaten.

begitu bertemu Mbah Lim, dengan sigap Mbah Lim berlari menyeruduk perut Gus Dur.
Kata Mbah Lim, “Gus, minta duit.”

Gus Dur menjawab, “Weh, wali kok minta duit”
Mbah Lim membalas, “Weh, katanya wali, kok pelit???..”

Lahul Faaatihah…

Semoga bermanfaat untuk kita semua..
Hasil diskusi kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa pembaca kunjungi di Benangmerahdasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.